Rabu, 30 September 2009

Yang paling Mahal?


Harta paling mahal apa yang kalian miliki? Handphone keluaran terbaru? Laptop tercanggih? Motor paling keren? Mobil mewah? Rumah kaya' istana? Simpenan uang segunung? Atau yang lain??? Sekarang, coba jual semua itu. Maka percayalah kawan, jika semua hal tadi dijual maka tak akan bisa menggantikan yang namanya "kesehatan".

Selasa, 30 Juni 2009

Sisi Koin Manakah yang Dominan?

Aku punya seorang temen cowo yang luar biasa “doyan ngomong”, padahal setahuku sifat kaya’gitu cuma dimiliki oleh kebanyakan cewe. Lebih heran lagi, dimana-mana dia emang selalu suka mengkritisi sesuatu (bawel), suka bergurau, jadi kesannya gak pernah serius. Namun justru itu yang membuat hidup suasana, entah itu di forum dunia maya ataupun waktu berkumpul bersama teman-teman yang lain. Akan tetapi, suatu hari penilaianku terhadapnya berubah. Ceritanya, waktu sedang menghadapi masalah, ia dengan segera tahu dan memberikan nasihat-nasihat bijak yang cukup meringankan beban. Kata-katanya mampu menyemangati kembali, jauh dari sifatnya yang biasanya. Ia sungguh berbeda! Sampai aku berpikir, apa ini sebenarnya sifat aslinya?

Selasa, 19 Mei 2009

Merenung Vs Melamun




















Dosenku pernah bertanya seperti ini, “What is the difference between daydream and contemplation?”

Kalo menurutku waktu itu si kedua-duanya hampir gak bisa dibedakan. Ataupun kalo ada perbedaan, terletak pada tujuan. Kalo daydream (pelamunan) atau aktivitasnya disebut melamun itu tujuannya gak jelas, pikiran masih kemana-mana. Contohnya, pas masih di kelas, kita nglamunin apa makan siang nanti atau mau kemana abis kelas ini selesai, pindah lagi nglamunin enaknya tidur pas kuliah siang-siang bolong (yang ini bukan pengalaman pribadi). Sedangkan contemplation (perenungan) atau aktivitasnya disebut merenung tujuannya lebih spesifik. Misalnya merenungkan masa depan, merenungkan tentang diri kita dan sebagainya.
Dosen tadi menjawab, “Daydream and contemplation are almost similar. Both of them are difficult to distinguish.” Nah loe, trus???

Dan masih kata dosen tadi, kalo secara fisik (dari luar), aktivitas melamun dan merenung gak bisa dibedakan. Yang tau ya pelakunya sendiri, sebenernya dia tu lagi nglamun atau merenung?


Ngomong-ngomong, pernahkah kita menghitung (kalo Anda termasuk orang yang kurang kerjaan) berapa jam dalam sehari kita melamun? Kesempatan untuk melamun itu datang waktu ada jeda antara satu aktivitas ke aktivitas lain, atau pas kita lagi nungguin sesuatu, atau pas kita lagi istirahat, atau mau tidur, dsb. Karena tujuan melamun tu gak jelas, jadi apa yang dilamunin juga gak spesifik, tergantung kejadian atau keinginan yang kita simpan saat itu. Padahal, kalo mau lebih mengontrol diri, aktivitas melamun tadi bisa dialihkan menjadi “merenung”.

Kalo penulis si, waktu paling asik buat merenung ya pas di atas motor. Hehe.. maklum, sebagai seorang komuter, pulang pergi membutuhkan waktu lama. Sedangkan, di jalan gak mungkin donk nglakuin aktivitas lain yang pake tangan? Minimal otak yang beraktivitas. Yah, jadilah aku seorang “perenung jalanan” alias orang yang hobi merenung di atas jalan. Bayangin aja, pulang pergi bisa makan waktu kurang lebih satu setengah jam. Kan lumayan buat cari inspirasi, terutama buat ngisi blog ini.. Hehehe..


Selasa, 05 Mei 2009

Cinderella Boy

Senin lalu bener-bener exhausted. Pagi kuliah Introduction to Linguistics Research, melajarin procedure menganalisis data. Tapi apa daya, otak ini blank adanya. Trus, kuliah CMD ngebahas lesson plan kita yang indicators ma evaluationnya amburadul gak ketulungan. Fiiuuuh, semakin complicated siangnya. Trakhir, kuliah Introduction to Education Research. Asik sih…tapi “black box” (brain) kita udah keburu mendidih (njeblug kalo orang Jawa bilang hehehe). Tampang anak-anak udah kusut merhatiin dosen menjelaskan penelitian quantitative yang (wow) sounds difficult. Kalo aku si enjoy-enjoy aja, duduk di baris ketiga sambil ngoceh sana-sini. Tapi tetep pasang kuping koq, alias dengerin.

O ya, ada kejadian lucu abis kuliah. Ceritanya, setelah anak-anak berhamburan keluar kelas, masih ada beberapa anak yang tinggal buat nanya-nanya ke dosen tentang materi yang diajarkan tadi di kelas. Nah, salah satu temen bernama Tegar kliatan clingak-clinguk nyari sesuatu. “Ngapain?” tanya beberapa temen yang liat dia lagi kebingungan. “Sepatuku koq gak ada?” jawabnya dalam bahasa Jawa. Temenku yang liat dia make satu sepatu (yang satu kaki lagi cuma make kaos kaki doank), langsung ngakak histeris.

“Lha koq iso?”
“Cari dulu. Kalo toh dicuri, masa satu doank?”
“Lagian ngapain si nyopot sepatu di kelas?”
“Wah, jangan-jangan ada yang mau melet nih.” (Soalnya di barisan Tegar rata-rata mahasiswa cewe)

Begitu komentar temen-temen sambil bantuin nyari sepatu Tegar. Gak masuk akal banget menurutku. Masa sepatu bisa lenyap gitu aja? Pasti kerjaan temen yang iseng. Ato jangan-jangan di kelas ini ada yang nunggu. Ha??!!!
Setelah hampir setengah jam mencari dan dosen masih di kelas (tanpa peduli-karena emang gak tau kale-kalo ada yang kehilangan sepatu) akhirnya temen-temen kasi saran ke Tegar buat pinjem sandal aja. Dan meminta dia mengikhlaskan sepatunya. Diapun setuju.

Setelah hampir keluar ruangan, tiba-tiba mataku tertuju pada seonggok barang di pojok depan kelas. Setelah kucermati, aku sontak teriak. “Lah bukannya itu sepatunya”

“Waa, he’eh ik!” tegar girang bukan main. Temen yang lain masih ketawa ketiwi aja.

“Huh, mata udah gak beres semua” celetukku.

Tapi aneh juga si, masa dari tadi sebuah barang dicari ma banyak orang gak ketemu-ketemu. Haha, never mind lah. Yang penting Tegar udah nemuin sepatunya lagi, and gak jadi nyeker pulang kos. Dasar, Cinderella Boy

Kamis, 30 April 2009

Kupu-kupu

Pernahkah mengamati kupu-kupu? Ia hanya bisa melihat keindahan sayap teman-temannya. Sedangkan ia sendiri mungkin memiliki sayap yang lebih indah. Namun tak ia sadari. Begitu pula manusia dalam melihat kelebihan dirinya. Terkadang yang ada di pikiran seseorang adalah "Wah, dia si enak. Punya ini, punya itu.", atau kasus lain yaitu seseorang minder karena merasa bahwa ia tak punya satu hal pun yang bisa dibanggakan. Sama seperti kupu-kupu tadi yang tak bisa melihat sayap miliknya sendiri. Maka, yang nampak hanya apa-apa yang ada di hadapannya.

Yakinlah, sahabat... jika diri kita pasti memiliki potensi yang tersembunyi. Tugas kitalah untuk mencarinya. Bahkan jangka waktunya cukup panjang. Yakni, seumur hidup kita. Mau tau caranya agar seekor kupu-kupu bisa melihat sayapnya? Sederhana sebenarnya. Ia tinggal pergi mencari permukaan air, untuk berkaca, agar ia bisa melihat seindah apa sayap yang dimiliki. Manusia pun bisa "berkaca", kan? Tapi yang perlu digarisbawahi, seindah dan sehebat apapun kelebihan diri kita, semua itu hanyalah titipan semata...

Meninggal Kehausan karena Lebih Mengutamakan Saudaranya*

Abu Jahm bin Hudzifah r.a. berkata, “Ketika berlangsung perang Yarmuk, aku mencari sepupuku yang ikut bertempur. Aku membawa sebuah kantung air,karena mungkin ia kehausan. Ketika aku menemukannya, ia tergeletak di suatu tempat dalam keadaan sekarat. Aku berkata, “Aku minumkan air untukmu!” Dengan isyarat ia mengiyakan. Tiba-tiba terdengar rintihan seseorang yang sekarat. Sepupuku menyuruhku dengan isyarat agar memberikan minuman itu kepada orang yang merintih. Ternyata orang itu adalah Hisyam bil Abil ‘Ash. Ketika aku mendatanginya, di dekatnya juga tergeletak seseorang yang merintih sedang sekarat. Hisyam memberikan isayarat kepadaku agar aku mendekati orang itu. Ketika kudekati, ternyata ia telah syahid. Akhirnya aku bawa kembali air itu kepada Hisyam, ternyata ia telah syahid. Aku segera ke tempat sepupuku tadi, rupanya ia juga telah syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” (Dirayah)


Message: Sangat banyak kisah mengenai sifat itsar para sahabat yang tertulis dalam kitab-kitab hadits. Walaupun dirinya sendiri sedang dalam sekarat dan kehausan sehingga dalam keadaan seperti itu tentu sangat sulit untuk memperhatikan orang lain, ia tetap mendahulukan kepentingan orang lain yang juga berada dalam kesulitan. Allah tentu melimpahkan kasih sayang dan kemuliaan kepada mereka, karena kasih sayang mereka dicurahkan dengan mengorbankan nyawa mereka sendiri.


*diambil dari “Kisah Teladan Rasulullah SAW dan Para Sahabat r.a.” oleh Maulana Muhammad Zakariyya (2006)

Rabu, 29 April 2009

Really Hectic Study

Wooaaaaa!!

Gak nyadar, ternyata udah hampir mendekati ajal (?!). Hehehe, maksudnya kelulusan. So, target semester ini proposal skripsi musti udah goal. Liburan ikut KKN. Semester depan PPL and nyelesain skripsi. Kalo bisa si awal taon depan bisa ikut wisuda. Hhhhhhhh, musti maraton ni...!

Senin, 27 April 2009

KKN yang Aneeeeeeeeh

Keanehan:

1. Info mendadak, hanya beberapa hari sebelum pendaftaran.
2. Waktu pendaftaran online nd pengembalian formulir gak logis.
3. Tenggat waktu pembayaran sangat pendek.
4. Sosialisasi kurang.
5. Mau daftar aja gak bisa!!!!!!

Pas di berita, ketentuannya gak sama dengan kenyataan. Di situ gak ada syarat kalo minimal SKS yang udah diambil adalah 110, tapi "Mahasiswa Semester VI (enam) ke atas, dibuktikan dengan KRS dan Rekap hasil studi". Logikanya kalo semester 6, SKS yang udah direcord ya cuma sampai semester 5 doank. Itupun gak ada yang udah nyampe 110, emangnya tiap semester kita ambil full (24) SKS???????????????? SILLY

Liat aja, besok pasti udah heboh di kampus. Guys, it's sooooo annoying. Arrgggggghhhhhhhhhhhhhhhh